Dibangun oleh satu orang yang capek pakai Excel untuk warungnya sendiri.
Retailku bukan lahir dari riset pasar atau rapat strategi. Lahir dari spreadsheet yang makin lama makin susah dipertahankan, dan satu keyakinan sederhana: sistem yang baik mengikuti apa yang terjadi di lapangan - bukan memaksa lapangan mengikuti sistem.
Retailku sendiri adalah platform kasir, stok, dan akuntansi dalam satu sistem, untuk pemilik toko, kafe, koperasi, dan usaha kecil menengah yang butuh laporan keuangan yang benar - bukan sekadar rekap kasir harian.
Sebelum ada Retailku, warung ini dikelola dengan Excel
Bukan Excel sederhana. Ini dashboard lengkap dengan grafik, laporan laba rugi harian, rekap stok, sampai satu sheet khusus bernama “Sinkronisasi Keuangan Harian” berisi puluhan rumus SUMIFS bersarang, tersebar di banyak sheet. Selama data diinput benar dan sinkronisasi harian tidak terlewat, semuanya berjalan.

Tapi satu kesalahan input bisa merusak laporan di sheet lain - tanpa peringatan, tanpa tanda apa pun. Titik baliknya bukan ketika Excel sudah tidak sanggup lagi. Titik baliknya adalah ketika mempertahankan Excel terasa lebih berat daripada membangun sistem baru dari nol.
Ada satu pengalaman lain yang ikut membentuk cara Retailku dirancang, dari pekerjaan sebagai admin gudang. Lima puluh data bahan baku sudah diinput dalam satu transaksi, lalu ditemukan satu kesalahan kecil. Sistem yang dipakai saat itu tidak bisa diedit - semua harus diulang dari nol. Bukan kesalahan besar, tapi sistemnya tidak dirancang untuk realita kerja manusia yang wajar salah.
Dari situ lahir prinsip yang dipegang teguh dalam desain Retailku: sistem yang baik mengikuti apa yang terjadi di lapangan, bukan memaksa lapangan mengikuti sistem.
Fitur Revisi di Retailku, misalnya, lahir persis dari pengalaman itu. Alih-alih mengunci dokumen yang sudah diposting, Revisi mengambil seluruh nilai dokumen lama sebagai titik awal, membatalkan dokumen lama secara otomatis, lalu membuat dokumen baru dari sana. Pengguna tidak perlu mengulang dari nol, dan jejak perubahan tetap terjaga penuh untuk audit.
Retailku pertama kali dipakai pada 29 Mei 2026, awalnya hanya untuk operasional warung sendiri. Bukan peluncuran resmi dengan seremoni - sejak hari itu sistem sudah berjalan dan data transaksi nyata sudah masuk. Bukan demo.
Dua keputusan teknis yang tidak bisa ditambahkan belakangan
Sebelum Retailku, sudah ada tiga sistem internal yang dibangun untuk kebutuhan serupa - yang terakhir sudah solid secara teknis, tapi dari awal didesain single-entry dan hanya untuk satu toko. Tidak bisa dipakai toko lain, tidak bisa menghasilkan laporan neraca atau laba rugi yang bisa dipertanggungjawabkan. Dari situ, dua keputusan ini diambil sejak baris kode pertama:
Setiap entitas data - produk, transaksi, akun keuangan - terikat ke identitas toko di level skema database sejak awal, bukan ditambahkan belakangan. Satu akun bisa mengelola banyak toko, data antar toko terisolasi ketat.
Pencatatan double entry sejak fondasi, bukan ditempel sebagai fitur tambahan. Setiap transaksi menghasilkan jurnal yang benar secara akuntansi tanpa posting manual terpisah - supaya laporan keuangannya bisa benar-benar dipertanggungjawabkan.
Di luar teknis, ada tiga alasan yang saling menopang kenapa Retailku terus dikembangkan:
- 1.Dipakai sendiri dulu, ditawarkan kemudian. Warung kecil milik Aqil, pembuat Retailku, adalah pengguna dan pengukur kualitas pertama, sebelum satu baris kode pun ditawarkan ke orang lain.
- 2.Harus jadi pendapatan berkelanjutan. Supaya Retailku bisa terus dirawat dan dikembangkan dalam jangka panjang - bukan proyek sampingan yang berhenti begitu waktu luang habis.
- 3.Harga ditekan serendah mungkin. Supaya sistem operasional dan akuntansi yang selama ini hanya terjangkau usaha menengah-besar, terbuka juga untuk UMKM kecil dengan kebutuhan pencatatan yang sama kompleksnya.
Angka nyata dari warung yang menjalankan Retailku
Founder Retailku menjalankan warung sembako sendiri sejak awal 2025, migrasi penuh ke Retailku Mei 2026. Berikut tiga bulan terakhir, apa adanya - termasuk bulan yang marginnya turun karena human error.
| Bulan | Omzet | Laba Bersih | Margin |
|---|---|---|---|
| Juni 2026 | Rp 2.139.545 | Rp 469.592 | 21,9% |
| Juli 2026 Ada kesalahan klasifikasi aset - human error, bukan bug. Terdeteksi tepat karena neraca tetap balance sempurna. | Rp 2.159.680 | Rp 152.674 | 7,1% |
| Agustus 2026 | Rp 2.173.711 | Rp 327.990 | 15,1% |
Margin bersih 15% di bulan Agustus ini ada di atas rata-rata warung sembako tradisional, yang umumnya 5-10%. Kewajiban dagang (utang) juga turun konsisten sampai Rp0 per Agustus 2026 - bukti solvabilitas yang membaik secara struktural, bukan klaim di atas kertas.
Retailku juga sudah dipakai di luar warung sendiri - salah satunya koperasi yang menjual barang dalam bentuk satu set maupun per satuan, memakai modul Bundle Produk yang mengurangi stok yang sama saat ada penjualan dari sisi mana pun, dengan jurnal yang tetap terjaga sejak hari pertama pemakaian.
Sebagian rencana pengembangan sengaja tidak didaftar sekarang
Bukan karena tidak ada arah - tapi karena arah itu sendiri baru terlihat jelas setelah pengalaman yang memunculkannya benar-benar terjadi. Hampir seluruh fitur Retailku lahir dari dogfooding: pemakaian nyata yang memunculkan kebutuhan yang sebelumnya tidak terpikirkan. Modul Cash Opname dengan pelacakan dana pihak ketiga, misalnya, tidak pernah ada di rencana awal - muncul setelah kejadian nyata di kasir.
Proses Berjalan
Fitur yang muncul dari pemakaian nyata sehari-hari, bukan direncanakan di atas kertas lebih dulu.
Faktor Internal
Rencana yang pasti dikerjakan tanpa menunggu sinyal luar - seperti pencatatan keuangan pribadi yang terintegrasi dengan Retailku.
Faktor Eksternal
Menunggu tanda kesiapan tertentu - omnichannel dan ekspansi internasional termasuk di sini.
Coba sendiri, bukan cuma percaya cerita
Retailku gratis dicoba 30 hari, tanpa kartu kredit.